Sunday, May 20, 2012

ARJUNA KSATRIA PEMANAH NOMOR SATU DI INDIA

DAFTAR ISI :
1) Mengenal Arjuna
2) Orang Tua Arjuna
3) Saudara Arjuna
4) Guru Arjuna
5) Mertua Arjuna
6) Istri Arjuna
7) Anak Arjuna
8) Besan Arjuna
9) Menantu Arjuna
10) Keturunan Arjuna
11) Jalur Keturunan
12) Kisah Hidup Arjuna

MENGENAL ARJUNA.
 
                                           Arjuna Muda                                             Arjuna Satria

                                            Arjuna Dewasa                            Arjuna Menyamar Pendeta

                             Arjuna Bertapa                                  Arjuna Barata Yuda

ORANG TUA ARJUNA 
                          Raja Pandu, Hastinapura (Ayah)                   Ratu Kunti (Ibu)

                               Dewa Indra, Raja Dewa, Hujan, Petir dan Surga (Penitisan)

SAUDARA ARJUNA
1) Raja Karna, Kerajaan Angga (Dewa Surya-Ratu Kunti)
2) Raja Yudistira, Kerajaan Indraprasta (Raja Pandu-Ratu Kunti) = Dewa Yama, Darma,Hukum Kematian
3) Bima (Raja Pandu-Ratu Kunti) = Dewa Bayu, Angin.
4) Nakula (Raja Pandu-Ratu Madrim) = Dewa Aswin, Pengobatan dan Pengetahuan
5) Sadewa (Raja Pandu-Ratu Madrim) = Dewa Aswi, Pengobatan dan Pengetahuan

                                    Raja Karna (Kakak)                               Raja Yudistira (Kakak)

                                                                              Bima (Kakak)

                                       Nakula (Adik)                                         Sadewa (Adik)

GURU ARJUNA.
                                   Bisma (Kakek)                                           Resi Drona

                               Resi Kripa                                                         Detya Dananjaya

                             Gandarwa Wiramaya                                           Dewa Baruna

     Resi Keswasidi (Penyamaran Kresna)       Dewa Siwa / Batara Guru / Hyang Manik Maya


                                  Dewi Durga                                               Semar / Batara Ismaya

MERTUA ARJUNA.
1) Dewa Indra Ayah dari Dewi Supraba Istri Arjuna
2) Resi Wilwuk Ayah dari Dewi Jimambang Istri Arjuna 
3) WasuDewa Paman Arjuna Kakak dari Ibu Kunti, Ayah Putri Subadra Istri Arjuna
4) Dewa Brahma Ayah dari Dewi Dresanala Istri Arjuna
5) Raja Drupada Kerajaan Pancala, Ayah dari Putri Drupadi dan Putri Srikandi Istri Arjuna
6) Raja Baladewa Kerajaan Mandura Anak Paman Arjuna Wasudewa, Ayah dari Putri Larasati 
7) Raja Rukma Kerajaan Kumbina, Ayah dari Putri Srimendang Istri Arjuna

                  Resi Wilwuk (Dewi Jimambang)                    Wasu Dewa (Putri Subadra)

               Dewa Brahma (Dewi Dresanala)            Raja Drupada (Putri Drupadi & Putri Srikandi)

                     Raja Baladewa (Putri Larasati)         Raja Rukma (Putri Srimendang)

ISTRI ARJUNA.

                           Dewi Ulupi (Istri Ke4)                               Putri Antakawulan (Istri ke11)

                          Dewi Dresanala (Istri ke7)                       Putri Drupadi (Istri Pertama)

                          Putri Jimambang (Istri Ke5)               Dewi JuwitaNingrat (Istri ke12)

                         Putri Larasati (Istri Ke3)                          Putri Maeswara (Istri ke13)

                           Putri Manuhara (Istri ke9)                            Putri Ratri (Istri ke6)

                                  Putri Srikandi (Istri ke16)                Putri Srikandi Barata yuda

                        Putri Subadra (Istri ke2)                                         Dewi Supraba (Istri ke10)

                           Putri Wilutama (Istri ke8)                    Putri Srimendang (Istri ke19)

ANAK ARJUNA.
                                      Srutasena (Drupadi)             Abimanyu Muda (Subadra)

                                 Abimanyu dewasa (Subadra)       Abimanyu Bertapa (Subadra)

                                   Irawan Muda (Ulupi)                           Irawan Dewasa (Ulupi)

                            Antakadewa (Antakawulan)               Wisanggeni (Dresanala)

                                  KumalaDewa (Jimambang)                      Brantalaras (Larasati)

                       Kumalasakti (Jimambang)                            Pregiwa (Manuhara)

                              Prigiwati (Manuhara)                            Prabakusuma (Supraba)

                               Sumbada (JuwitaNingrat)                                   Sumitra (Larasati)

                                     Wijanarka (Ratri)                                Wilugangga (Wilutama)

BESAN ARJUNA
1) Yudistira kakak Arjuna, Ayah dari Pratiwindya
2) Bima kakak Arjuna, Ayah Gatot Kaca 
3) Raja Kresna Putra Basudewa Paman Arjuna, ayah Putri Sundari I
4) Raja Mustikadarma Kerajaan Sonyapura, Ayah Putri Mustikawati
5) Raja Wirata Kerajaan Matsah, Ayah Putri Utari
6) Raja Niwatakawaca Kerajaan Manikmantaka, Ayah Dewi Mustakaweni

                             Raja Wirata (Putri Utari)                    Raja Kresna (Putri Sundari)

            Raja Niwatakawaca (Dewi Mustakaweni)          Raja Yudistira (Pratiwindya)

                                                                   Bima (Gatot Kaca)

MENANTU ARJUNA
1) Pratiwindya Suami Pregiwati Putri Arjuna
2) Gatot Kaca Suami Pregiwa Putri Arjuna
3) Putri Sundari Istri Abimanyu Putra Arjuna
4) Putri Mustikawati Istri Wisanggeni Putra Arjuna
5) Putri Utari istri Abimanyu Putra Arjuna
6) Dewi Mustakaweni Istri Prabakusuma Putra Arjuna

                             Pratiwindya (Pregiwati)                    GatotKaca (Pregiwa)

                                   Sundari (Abimanyu)                                  Utari (Abimanyu) 

                                                              Mustakaweni (Prabakusuma)

KETURUNAN ARJUNA.
                           PariKesit Muda (Abimanyu)                  Raja Parikesit (Abimanyu)

                                                                     Ramaprawa (Parikesit)

JALUR KETURUNAN
 
KISAH HIDUP ARJUNA.
Arjuna (Sanskerta; Arjuna) adalah nama seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia dikenal sebagai sang Pandawa yang menawan parasnya dan lemah lembut budinya. Ia adalah putra Prabu Pandudewanata, raja di Hastinapura dengan Dewi Kunti atau Dewi Prita, yaitu putri Prabu Surasena, Raja Wangsa Yadawa di Mandura. Arjuna merupakan teman dekat Kresna, yaitu awatara (penjelmaan) Bhatara Wisnu yang turun ke dunia demi menyelamatkan dunia dari kejahatan. Arjuna juga merupakan salah orang yang sempat menyaksikan "wujud semesta" Kresna menjelang Bharatayuddha berlangsung. Ia juga menerima Bhagawadgita atau "Nyanyian Orang Suci", yaitu wejangan suci yang disampaikan oleh Kresna kepadanya sesaat sebelum Bharatayuddha berlangsung karena Arjuna masih segan untuk menunaikan kewajibannya.

Arti nama

Dalam bahasa Sanskerta, secara harfiah kata Arjuna berarti "bersinar terang", "putih" , "bersih". Dilihat dari maknanya, kata Arjuna bisa berarti "jujur di dalam wajah dan pikiran".
Arjuna mendapat julukan "Kuruśreṣṭha" yang berarti "keturunan dinasti Kuru yang terbaik". Ia merupakan manusia pilihan yang mendapat kesempatan untuk mendapat wejangan suci yang sangat mulia dari Kresna, yang terkenal sebagai Bhagawadgita (nyanyian Tuhan).
Ia memiliki sepuluh nama: Arjuna, Phālguna, Jishnu, Kirti, Shwetawāhana, Wibhatsu, Wijaya, Pārtha, Sawyashachi (juga disamakan dengan Sabyasachi), dan Dhananjaya. Ketika ia ditanya tentang sepuluh namanya sebagai bukti identitas, maka ia menjawab:
Sepuluh namaku adalah: Arjuna, Phālguna, Jishnu, Kirti, Shwetawāhana, Wibhatsu, Wijaya, Pārtha, Sawyashachi dan Dhananjaya. Aku dipanggil Dhananjaya ketika aku menaklukkan seluruh raja pada saat Yadnya Rajasuya dan mengumpulkan harta mereka. Aku selalu bertarung sampai akhir dan aku selalu menang, itulah sebabnya aku dipanggil Wijaya. Kuda yang diberikan Dewa Agni kepadaku berwarna putih, itulah sebabnya aku dipanggil Shwetawāhana. Ayahku Indra memberiku mahkota indah ketika aku bersamanya, itulah sebabnya aku dipanggil Kriti. Aku tidak pernah bertarung dengan curang dalam pertempuran, itulah sebabnya aku dipanggil Wibhatsu. Aku tidak pernah menakuti musuhku dengan keji, aku bisa menggunakan kedua tanganku ketika menembakkan anah panah, itulah sebabnya aku disebut Sawyashachī. Raut wajahku unik bagaikan pohon Arjun, dan namaku adalah "yang tak pernah lapuk", itulah sebabnya aku dipanggil Arjuna. Aku lahir di lereng gunung Himawan, di sebuah tempat yang disebut Satsringa pada hari ketika bintang Uttarā Phālgunī berada di atas, itulah sebabnya aku disebut Phālguna. Aku disebut Jishnu karena aku menjadi hebat ketika marah. Ibuku bernama Prithā, sehingga aku disebut juga Pārtha. Aku bersumpah bahwa aku akan menghancurkan setiap orang yang melukai kakakku Yudistira dan menaburkan darahnya di bumi. Aku tak bisa ditaklukkan oleh siapa pun.

Julukan

Dalam wiracarita Mahabharata versi nusantara, Arjuna banyak memiliki nama dan nama julukan, antara lain: Parta (pahlawan perang), Janaka (memiliki banyak istri), Pemadi (tampan), Dananjaya, Kumbaljali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi, Indratanaya (putra Batara Indra), Jahnawi (gesit trengginas), Palguna, Indrasuta, Danasmara (perayu ulung) dan Margana (suka menolong). "Begawan Mintaraga" adalah nama yang digunakan oleh Arjuna saat menjalani laku tapa di puncak Indrakila dalam rangka memperoleh senjata sakti dari dewata, yang akan digunakan dalam perang yang tak terhindarkan melawan musuh-musuhnya, yaitu keluarga Korawa.
Arti nama-nama Arjuna dalam pewayangan antara lain Panduputra, karena ia anak Pandu: Kuntadi, karena ia memiliki senjata panah sakti; Palguna, karena ia pandai mengukur kekuatan lawan, Dananjaya, karena ia tidak mementingkan harta benda, Kariti, karena ia pernah diwisuda menjadi raja Tenjamaya, yaitu kahyangan para bidadari; Margana, karena ia dapat terbang walaupun tanpa sayap; Parta karena ia seorang yang berbudi luhur dan sentosa; Parantapa karena ia amat tekun bertapa; Kuruprawira dan Kurusatama karena ia adalah pahlawan Baratayuda yang dilangsungkan di Medan Kurusetra, Mahabahu karena walaupun tubuhnya tidak besar tetapi memiliki kekuatan yang dahsyat; nama Danasmara karena ia tak pernah menolak cinta wanita mana pun.

Nama lain
Dalam pewayangan Arjuna mempunyai banyak nama, antara lain: Permadi, Pamade, Janaka, Palguna, Anaga, Panduputra, Barata, Baratasatama, Danasmara, Dananjaya, Gudakesa, Ciptaning, Kritin, Kaliti, Kariti, Kumbawali, Kumbang Ali-ali, Kuntiputra, Kuruprawira, Kurusatama, Kurusreta, Mahabahu, Margana, Parantapa, dan Parta.
Nama lain Arjuna di bawah ini merupakan nama lain Arjuna yang sering muncul dalam kitab-kitab Mahabharata atau Bhagawad Gita yang merupakan bagian daripadanya, dalam versi bahasa Sanskerta. Nama-nama lain di bawah ini memiliki makna yang sangat dalam, mengandung pujian, dan untuk menyatakan rasa kekeluargaan (nama-nama yang dicetak tebal dan miring merupakan sepuluh nama Arjuna).
  1. Anagha (Anaga, yang tak berdosa)
  2. Bhārata (Barata, keturunan Bhārata)
  3. Bhārataśreṣṭha (Barata-sresta, keturunan Bhārata yang terbaik)
  4. Bhāratasattama (Bharata-satama, keturunan Bhārata yang utama)
  5. Bhārataśabhā (Barata-saba, keturunan Bharata yang mulia)
  6. Dhanañjaya (perebut kekayaan)*
  7. Gandīvi (Gandiwi, pemilik Gandiwa, senjata panahnya)
  8. Gudakeśa (penakluk rasa kantuk, yang berambut halus)
  9. Jishnu (hebat ketika marah)*
  10. Kapidhwaja (yang memakai panji berlambang monyet)
  11. Kaunteya / Kuntīputra (putra Dewi Kunti)
  12. Kīrti (yang bermahkota indah)*
  13. Kurunandana (putra kesayangan dinasti Kuru)
  14. Kurupravīra (Kuru-prawira, perwira Kuru, ksatria dinasti Kuru yang terbaik)
  15. Kurusattama (Kuru-satama, keturunan dinasti Kuru yang utama)
  16. Kuruśṛṣṭha (Kuru-sresta, keturunan dinasti Kuru yang terbaik)
  17. Mahābāhu (Maha-bahu, yang berlengan perkasa)
  18. ṇḍava (Pandawa, putra Pandu)
  19. Parantapa (penakluk musuh)*
  20. Pārtha (keturunan Partha atau Dewi Kunti)*
  21. Phālguna (yang lahir saat bintang Uttara Phalguna muncul)*
  22. Puruṣaṛṣabhā (Purusa-rsaba, manusia terbaik)
  23. Sawyaśachī (Sawya-saci, yang mampu memanah dengan tangan kanan maupun kiri)*
  24. Śwetawāhana (Sweta-wahana, yang memiliki kuda berwarna putih)*
  25. Wibhatsu (yang bertarung dengan jujur)*
  26. Wijaya (yang selalu memenangkan setiap pertempuran)*

Kelahiran

Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Raja Hastinapura yang bernama Pandu tidak bisa melanjutkan keturunan karena dikutuk oleh seorang resi. Kunti (istri pertamanya) menerima anugerah dari Resi Durwasa agar mampu memanggil Dewa-Dewa sesuai dengan keinginannya, dan juga dapat memperoleh anak dari Dewa tersebut. Pandu dan Kunti memanfaatkan anugerah tersebut kemudian memanggil Dewa Yama (Dharmaraja; Yamadipati), Dewa Bayu (Angin), dan Dewa Indra (Sakra) yang kemudian memberi mereka tiga putra. Arjuna merupakan putra ketiga, lahir dari Indra, pemimpin para Dewa.

Sifat dan kepribadian

Arjuna memiliki karakter yang mulia, berjiwa kesatria, imannya kuat, tahan terhadap godaan duniawi, gagah berani, dan selalu berhasil merebut kejayaan sehingga diberi julukan "Dananjaya". Musuh seperti apapun pasti akan ditaklukkannya, sehingga ia juga diberi julukan "Parantapa", yang berarti penakluk musuh. Di antara semua keturunan Kuru di dalam silsilah Dinasti Kuru, ia dijuluki "Kurunandana", yang artinya putra kesayangan Kuru. Ia juga memiliki nama lain "Kuruprāwira", yang berarti "kesatria Dinasti Kuru yang terbaik", sedangkan arti harfiahnya adalah "Perwira Kuru".
Di antara para Pandawa, Arjuna merupakan kesatria pertapa yang paling teguh. Pertapaannya sangat kusuk. Ketika ia mengheningkan cipta, menyatukan dan memusatkan pikirannya kepada Tuhan, segala gangguan dan godaan duniawi tak akan bisa menggoyahkan hati dan pikirannya. Maka dari itu, Sri Kresna sangat kagum padanya, karena ia merupakan kawan yang sangat dicintai Kresna sekaligus pemuja Tuhan yang sangat tulus. Sri Kresna pernah berkata padanya, "Pusatkan pikiranmu pada-Ku, berbaktilah kepada-Ku, dan serahkanlah dirimu pada-Ku, maka kau akan datang kepada-Ku. Aku berkata demikian, karena kaulah kawan-Ku yang sangat Kucintai".[

Masa muda dan pendidikan

Arjuna didik bersama dengan saudara-saudaranya yang lain (para Pandawa dan Korawa) oleh Bagawan Drona. Kemahirannya dalam ilmu memanah sudah tampak semenjak kecil. Pada usia muda ia sudah mendapat gelar "Maharathi" atau "kesatria terkemuka". Ketika  Guru Drona meletakkan burung kayu pada pohon, ia menyuruh muridnya satu-persatu untuk membidik burung tersebut, kemudian ia menanyakan kepada muridnya apa saja yang sudah mereka lihat. Banyak muridnya yang menjawab bahwa mereka melihat pohon, cabang, ranting, dan segala sesuatu yang dekat dengan burung tersebut, termasuk burung itu sendiri. Ketika tiba giliran Arjuna untuk membidik, Guru Drona menanyakan apa yang ia lihat. Arjuna menjawab bahwa ia hanya melihat burung saja, tidak melihat benda yang lainnya. Hal itu membuat Guru Drona kagum bahwa Arjuna sudah pintar.
Pada suatu hari, ketika Drona sedang mandi di sungai Gangga, seekor buaya datang mengigitnya. Drona dapat membebaskan dirinya dengan mudah, namun karena ia ingin menguji keberanian murid-muridnya, maka ia berteriak meminta tolong. Di antara murid-muridnya, hanya Arjuna yang datang memberi pertolongan. Dengan panahnya, ia membunuh buaya yang menggigit gurunya. Atas pengabdian Arjuna, Drona memberikan sebuah astra yang bernama "Brahmasirsa". Drona juga mengajarkan kepada Arjuna tentang cara memanggil dan menarik astra tersebut. Menurut Mahabharata, Brahmasirsa hanya dapat ditujukan kepada dewa, raksasa, setan jahat, dan makhluk sakti yang berbuat

Pusaka

Arjuna memiliki senjata sakti yang merupakan anugerah para dewata, hasil pertapaannya. Ia memiliki panah Pasupati yang digunakannya untuk mengalahkan Karna dalam Bharatayuddha. Busurnya bernama Gandiwa, pemberian Dewa Baruna ketika ia hendak membakar hutan Kandawa. Ia juga memiliki sebuah terompet kerang (sangkala) bernama Dewadatta, yang berarti "anugerah Dewa".

Pusaka Dan Ajian.
Arjuna juga memiliki pusaka-pusaka sakti lainnya, atara lain: Keris Kalanadah diberikan pada Gatotkaca saat mempersunting Dewi Pergiwa (putri Arjuna), Panah Sangkali (dari Resi Drona), Panah Candranila, Panah Sirsha, Panah Sarotama, Panah Pasupati, Panah Harya Sangkali,  Brahmasira/Agniyastra,  Panah Merdaging,  Panah Mercujiwa,  Keris Kalanadhah,  Busur Gendhewa,  Sarotama,  Trompet Dewadata,  Panah Naracabala, Panah Ardhadhedhali, Keris Baruna, Keris Pulanggeni (diberikan pada Abimanyu), Terompet Dewanata, Cupu berisi minyak Jayengkaton (pemberian Bagawan Wilawuk dari pertapaan Pringcendani) dan Kuda Ciptawilaha dengan Cambuk Pamuk. Sedangkan
Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu Kampuh atau Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara, Kalung Candrakanta dan Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja negara Paranggelung).
Selain berkemampuan terbang, Arjuna juga banyak memiliki senjata pusaka. Sebagian besar senjata itu pemberian para dewa, di antaranya, Pulanggeni, Pasopati, Kalanadah, Sarotama, Kalamisani. Keris Kalanadah yang dalam pewayangan dikatakan berasal dari taring Batara Kala, kemudian dihadiahkan kepada Gatotkaca, ketika putra Bima itu menikahi Dewi Pregiwa. Anak panah pusaka milik Arjuna juga cukup banyak, di antaranya adalah Pasopati, Sarutama, Ardadedali, dan Agnirastra. Cundamanik, anak panah pusaka yang semula milik Begawan Drona yang berasal dari pemberian Dewi Wilutama dan kemudian diwariskan pada Aswatama, akhirnya juga menjadi milik Arjuna, sebagai barang sitaan, seusai Baratayuda. Selain itu, anak panah Sengkali adalah hadiah Begawan Drona bagi Arjuna.
Selanjutnya Arjuna mendaki Gunung Himalaya. la berharap dapat bertemu dengan para dewata untuk memperoleh senjata sakti untuk melawan para Kurawa kelak bila masa pengasingannya telah usai. Di Gunung Himalaya ia menyerang Kirata (Kerata), orang gunung. Tatkala ia sadar siapa sebenarnya yang dihadapi, Arjuna menyembah Kirata, jelmaan Batara Siwa, dan mengakui kekhilafannya. Dari dewa ini Arjuna memperoleh senjata bernama Pasupata atau Pasopati, senjata yang ampuh. Mengetahui hal ini, Batara Indra, Batara Baruna (Waruna), Batara Yama dan Batara Kuwera berdatangan dan menghadiahkan berbagai senjata pusaka. Batara Indra kemudian mengajak Arjuna masuk ke dalam kereta gaib dan membawanya ke sorga, ke ibukota negeri Batara Indra, Amarawati. Di tempat ini Arjuna menghabiskan waktunya beberapa tahun untuk mempelajari ilmu perang, termasuk ilmu perang melawan raksasa, makhluk halus di lautan dan Wanamarta penguasa Gandarwa. Batara Indra puas akan kemahiran Arjuna, lalu menghadiahkan sebuah mahkota bertakhtakan emas berlian dan berbagai pusaka sakti.

Beberapa Ajian atau Ilmu yang dimiliki oleh Arjuna:
  • Panglimunan atau Kemayan, untuk membuat dirinya tidak terlihat atau menghilang.
  • Sepiangin, dapat berjalan tanpa membuat jejak.Bisa berjalan tampa memyentu tanah & berpinda tempat bagaikan Angin
  • Tunggengmaya, dapat menciptakan sumber air.
  • Mayabumi, dapat memperbesar wibawa sehingga musuhnya takut sebelum berperang.
  • Mundri atau Maundri, dapat menambah berat tubuhnya, sehingga musuh tak kuat mengangkatnya.
  • Pengasihan, membuatnya dikasihi sesama makhluk.
  • Asmaracipta, menambah kemampuan olah pikir.
  • Asmaratantra, menambah kekuatan dalam peperangan.
  • Asmarasedya, menambah keteguhan hati menghadapi peperangan.
  • Asmaraturida, menambah kekuatan dalam berolah rasa.
  • Asmaragama, menambah kemampuan berolah asmara.
  • Anima, dapat membuat tubuh Arjuna mengecil sehingga tidak terlihat oleh mata.
  • Lahima, dapat membuat tubuh Arjuna menjadi ringan, sehingga ia dapat melayang.
  • Prapki, dapat membuat sampai kie tempat tujuan yang dinginkannya.
  • Matima, dapat megubah ujud dirinya.
  • Kamawasita, membuat Arjuna menjadi perkasa dalam berolah asmara.

Istri dan keturunan

Dalam Mahabharata versi pewayangan Jawa, Arjuna mempunyai 17 orang istri dan 15 orang anak. Adapun istri dan anak-anaknya adalah:
  1. Putri Drupadi berputra Srutasena
  2. Putri Subadra, berputra Abimanyu;
  3. Putri Larasati, berputra Sumitra dan Bratalaras;
  4. Dewi Ulupi atau Palupi, berputra Irawan;
  5. Putri Jimambang, berputra Kumaladewa dan Kumalasakti;
  6. Putri Ratri, berputra Wijanarka;
  7. Dewi Dresanala, berputra Wisanggeni;
  8. Putri Wilutama, berputra Wilugangga;
  9. Putri Manuhara, berputri Pregiwa dan Pregiwati
  10. Dewi Supraba, berputra Prabakusuma;
  11. Putri Antakawulan, berputra Antakadewa;
  12. Putri Juwitaningrat, berputra Sumbada;
  13. Putri Maheswara, berputra Babruwahana,
  14. Putri Retno;
  15. Putri Dyah Sarimaya;
  16. Putri Srikandi.
  17. Putri Gandawati
  18. Putri Puspawati
  19. Putri Srimedang, berputra Srigati
  20. Putri Manikarya
  21. Putri Suyakti
  22. Putri Partawati.
Istri Arjuna banyak ada yang mengatakan. 41 orang jumlahnya. Nama para istri Arjuna yang cukup terkenal antara lain adalah Subadra, Srikandi, Larasati, Ulupi (Palupi), Lestari, Manoara, Ratri, Gandawati, Banowati, Manikhara, Citrahoyi, Wilutama, Supraba, dan Dresanala. Tiga nama yang disebut terakhir adalah bidadari, nama istri Arjuna lainnya adalah Puspawati, Srimedang, Manikarya, Suyakti, dan Partawati. Karena begitu banyak istri Arjuna, sampai-sampai istrinya sebanyak satu juta kurang satu. Jadi ada 999.999 orang.
Walaupun sudah demikian banyak istrinya, karena Kejantanan dan sikapnya yang lemah lembut, Arjuna tetap saja dicintai banyak wanita. Antara lain oleh iparnya sendiri, yaitu Dewi Banowati, istri Duryudana atau Suyudana. Bahkan ketika Banowati menikah dengan penguasa Kerajaan Astina itu, putri cantik itu minta agar Arjunalah yang memandikan dan meriasnya. Dewi Banowati baru terlaksana menjadi istri Arjuna setelah menjadi janda, seusai Baratayuda.
Dalam kehidupan perkawinan Arjuna, yang dianggap sebagai istri utama atau 'permaisuri' adalah Dewi Subadra, adik Prabu Kresna. Tetapi perkawinan mereka tidak berjalan gampang karena sebenarnya ditentang oleh Prabu Baladewa. Raja Mandura ini ingin agar Dewi Subadra dinikahkan dengan Burisrawa, putra Prabu Somadata Kisah perkawinan Arjuna dengan Dewi Subadra di pewayangan, agak jauh berbeda dengan yang diceritakan di Kitab Mahabarata. Menurut Kitab Mahabarata, Subadra bisa menjadi istrinya, setelah Arjuna menculik dan melarikannya pada suatu pesta. Peristiwa penculikan Subadra ini membuat Baladewa amat marah dan hendak menghukum ksatria Pandawa itu, namun Kresna mencegahnya. Setelah kemarahan Baladewa reda, Kresna justru mengundang Arjuna ke Dwaraka (Dwarawati) untuk merayakan pernikahan mereka secara pantas, sesuai dengan kedudukan Subadra selaku putri raja Mandura.

Selain itu, dalam Mahabarata diceritakan pengembaraan Arjuna mencari ilmu juga sampai ke negeri Naga. Di sana ia bertemu dengan putri bangsawan suku Naga bernama Ulupi (di pewayangan disebut Dewi Palupi dan tinggal di Pertapaan Yasarata), dan menikahinya. Mereka berputra Irawat. Ketika di Kerajaan Manipura, Arjuna kawin dengan putri mahkota bernama Maheswara. Sebelum meninggalkan negeri Manipura, Maheswara melahirkan seorang putra bernama Babruwahana.
 
Karena istrinya banyak, anak ketiga dari Pandu Dewanata itu juga banyak anaknya, kebanyakan laki-laki. Anak Arjuna yang terkenal antara lain adalah Abimanyu, Irawan, Sumitra, Wisanggeni, Bratalaras, Wilugangga, Priyambada, Wijanarka, dan Caranggana. Sedangkan anak perempuannya, antara lain Dewi Pregiwa dan Pregiwati. Semua anak laki-lakinya gugur dalam Baratayuda, tidak seorang pun yang hidup. Demikian pula salah seorang istrinya, Srikandi. Prajurit wanita yang berjasa karena mengalahkan Resi Bisma itu tewas dibunuh Aswatama pada saat tidur.
Waktu itu Dewi Jimambang, putri Begawan Wilwuk, seorang pertapa dari wilayah Kerajaan Pringgadani jatuh cinta kepadanya, dan mereka pun kawin. Dewi Jimambang inilah yang sebenarnya merupakan istri pertama Arjuna. Dari mertuanya Arjuna mendapat minyak pusaka Jayengkaton yang menyebabkannya sanggup melihat segala jenis makhluk halus. Karena minyak sakti itu pula Arjuna dan saudara-saudaranya dapat mengalahkan semua siluman Detya penghuni hutan angker itu. Dengan begitu pekerjaan membabat Hutan Wanamarta bisa dirampungkan dan Kerajaan Amarta dapat dibangun.

Arjuna mendapatkan Dropadi
Pada suatu ketika, Raja Drupada dari Kerajaan Panchala mengadakan sayembara untuk mendapatkan Dropadi, puterinya. Sebuah ikan kayu diletakkan di atas kubah balairung, dan di bawahnya terdapat kolam yang memantulkan bayangan ikan yang berada di atas. Kesatria yang berhaisl memanah ikan tersebut dengan hanya melihat pantulannya di kolam, berhak mendapatkan Dropadi.
Berbagai kesatria mencoba melakukannya, namun tidak berhasil. Ketika Karna yang hadir pada saat itu ikut mencoba, ia berhasil memanah ikan tersebut dengan baik. Namun ia ditolak oleh Dropadi dengan alasan Karna lahir di kasta rendah. Arjuna bersama saudaranya yang lain menyamar sebagai Brahmana, turut serta menghadiri sayembara tersebut. Arjuna berhasil memanah ikan tepat sasaran dengan hanya melihat pantulan bayangannya di kolam, dan ia berhak mendapatkan Dropadi.
Ketika para Pandawa pulang membawa Dropadi, mereka berkata, "Ibu, engkau pasti tidak akan percaya dengan apa yang kami bawa!". Kunti (Ibu para Pandawa) yang sedang sibuk, menjawab "Bagi dengan rata apa yang sudah kalian peroleh". Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kunti, maka para Pandawa bersepakat untuk membagi Dropadi sebagai istri mereka. Mereka juga berjanji tidak akan mengganggu Dropadi ketika sedang bermesraan di kamar bersama dengan salah satu dari Pandawa. Hukuman dari perbuatan yang mengganggu adalah pembuangan selama 1 tahun.

Perjalanan menjelajahi Bharatawarsha

Pada suatu hari, ketika Pandawa sedang memerintah kerajaannya di Indraprastha, seorang pendeta masuk ke istana dan melapor bahwa pertapaannya diganggu oleh para raksasa. Arjuna yang merasa memiliki kewajiban untuk menolongnya, bergegas mengambil senjatanya. Namun senjata tersebut disimpan di sebuah kamar dimana Yudistira dan Dropadi sedang menikmati malam mereka. Demi kewajibannya, Arjuna rela masuk kamar mengambil senjata, tidak mempedulikan Yudistira dan Dropadi yang sedang bermesraan di kamar. Atas perbuatan tersebut, Arjuna dihukum untuk menjalani pembuangan selama 1 tahun.
Arjuna menghabiskan masa pengasingannya dengan menjelajahi penjuru Bharatawarsha atau daratan India Kuno. Ketika sampai di sungai Gangga, Arjuna bertemu dengan Ulupi, puteri Naga Korawya dari istana naga atau Nagaloka. Arjuna terpikat dengan kecantikan Ulupi lalu menikah dengannya. Dari hasil perkawinannya, ia dikaruniai seorang putra yang diberi nama Irawan. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya menuju wilayah pegunungan Himalaya. Setelah mengunjungi sungai-sungai suci yang ada di sana, ia berbelok ke selatan. Ia sampai di sebuah negeri yang bernama Manipura. Raja negeri tersebut bernama Citrasena. Beliau memiliki seorang puteri yang sangat cantik bernama Citrānggadā. Arjuna jatuh cinta kepada puteri tersebut dan hendak menikahinya, namun Citrasena mengajukan suatu syarat bahwa apabila puterinya tersebut melahirkan seorang putra, maka anak puterinya tersebut harus menjadi penerus tahta Manipura oleh karena Citrasena tidak memiliki seorang putra. Arjuna menyetujui syarat tersebut. Dari hasil perkawinannya, Arjuna dan Citrānggadā memiliki seorang putra yang diberi nama  
Babruwahana. Oleh karena Arjuna terikat dengan janjinya terdahulu, maka ia meninggalkan Citrānggadā setelah beberapa bulan tinggal di Manipura. Ia tidak mengajak istrinya pergi ke Hastinapura.
Setelah meninggalkan Manipura, ia meneruskan perjalanannya menuju arah selatan. Dia sampai di lautan yang mengapit Bharatawarsha di sebelah selatan, setelah itu ia berbelok ke utara. Ia berjalan di sepanjang pantai Bharatawarsha bagian barat. Dalam pengembaraannya, Arjuna sampai di pantai Prabasa (Prabasatirta) yang terletak di dekat Dwaraka, yang kini dikenal sebagai Gujarat. Di sana ia menyamar sebagai seorang pertapa untuk mendekati adik Kresna yang bernama Subadra, tanpa diketahui oleh siapa pun. Atas perhatian dari Baladewa, Arjuna mendapat tempat peristirahatan yang layak di taman Subadra. Meskipun rencana untuk membiarkan dua pemuda tersebut tinggal bersama ditentang oleh Kresna, namun Baladewa meyakinkan bahwa peristiwa buruk tidak akan terjadi. Arjuna tinggal selama beberapa bulan di Dwaraka, dan Subadra telah melayani semua kebutuhannya selama itu. Ketika saat yang tepat tiba, Arjuna menyatakan perasaan cintanya kepada Subadra. Pernyataan itu disambut oleh Subadra. Dengan kereta yang sudah disiapkan oleh Kresna, mereka pergi ke Indraprastha untuk melangsungkan pernikahan.
Baladewa marah setelah mendengar kabar bahwa Subadra telah kabur bersama Arjuna. Kresna meyakinkan bahwa Subadra pergi atas kemauannya sendiri, dan Subadra sendiri yang mengemudikan kereta menuju Indraprastha, bukan Arjuna. Kresna juga mengingatkan Baladewa bahwa dulu ia menolak untuk membiarkan kedua pasangan tersebut tinggal bersama, namun usulnya ditentang oleh Baladewa. Setelah Baladewa sadar, ia membuat keputusan untuk menyelenggarakan upacara pernikahan yang mewah bagi Arjuna dan Subadra di Indraprastha. Ia juga mengajak kaum Yadawa untuk turut hadir di pesta pernikahan Arjuna-Subadra. Setelah pesta pernikahan berlangsung, kaum Yadawa tinggal di Indraprastha selama beberapa hari, lalu pulang kembali ke Dwaraka, namun Kresna tidak turut serta.

Terbakarnya hutan Kandawa

Pada suatu ketika, Arjuna dan Kresna berkemah di tepi sungai Yamuna. Di tepi hutan tersebut terdapat hutan lebat yang bernama Kandawa. Di sana mereka bertemu dengan Agni, Dewa Api. Agni berkata bahwa hutan Kandawa seharusnya telah musnah dilalap api, namun Dewa Indra selalu menurunkan hujannya untuk melindungi temannya yang bernama Taksaka, yang hidup di hutan tersebut. Maka, Agni memohon agar Kresna dan Arjuna bersedia membantunya menghancurkan hutan Kandawa. Kresna dan Arjuna bersedia membantu Agni, namun terlebih dahulu mereka meminta Agni agar menyediakan senjata kuat bagi mereka untuk menghalau gangguan yang akan muncul. Kemudian Agni memanggil Baruna, Dewa Lautan. Baruna memberikan busur suci bernama Gandiwa serta tabung berisi anak panah dengan jumlah tak terbatas kepada Arjuna. Dengan senjata tersebut, mereka berdua menjaga agar Agni mampu melalap hutan Kandawa sampai habis.

Arjuna dalam masa pembuangan
Setelah Yudistira kalah bermain dadu, para Pandawa beserta Dropadi mengasingkan diri ke hutan. Kesempatan tersebut dimanfa'atkan oleh Arjuna untuk bertapa demi memperoleh kesaktian dalam peperangan melawan para sepupunya yang jahat.
Mintaraga ialah Arjuna pada waktu bertapa mengasingkan diri. Minta berarti memisah, raga berarti badan kasar. Jadi waktu itu Arjuna menjernihkan pikiran, supaya bisa berpisah dengan badan kasarnya. Kehendak Arjuna ialah supaya jaya kelak di dalam perang Baratayuda. Arjuna memilih lokasi bertapa di gunung Indrakila. Dalam usahanya, ia diuji oleh tujuh bidadari yang dipimpin oleh Supraba, namun keteguhan hati Arjuna mampu melawan berbagai godaan yang diberikan oleh para bidadari. Para bidadari yang kesal kembali ke kahyangan, dan melaporkan kegagalan mereka kepada Dewa Indra. Setelah mendengarkan laporan para bidadari, Indra turun di tempat Arjuna bertapa sambil menyamar sebagai seorang pendeta. Dia bertanya kepada Arjuna, mengenai tujuannya melakukan tapa di gunung Indrakila. Arjuna menjawab bahwa ia bertapa demi memperoleh kekuatan untuk mengurangi penderitaan rakyat, serta untuk menaklukkan musuh-musuhnya, terutama para Korawa yang selalu bersikap jahat terhadap para Pandawa. Setelah mendengar penjelasan dari Arjuna, Indra menampakkan wujudnya yang sebenarnya. Dia memberikan anugerah kepada Arjuna berupa senjata sakti.
Setelah mendapat anugerah dari Indra, Arjuna memperkuat tapanya ke hadapan Siwa. Siwa yang terkesan dengan tapa Arjuna kemudian mengirimkan seekor babi hutan berukuran besar. Ia menyeruduk gunung Indrakila hingga bergetar. Hal tersebut membuat Arjuna terbangun dari tapanya. Karena ia melihat seekor babi hutan sedang mengganggu tapanya, maka ia segera melepaskan anak panahnya untuk membunuh babi tersebut. Di saat yang bersamaan, Siwa datang dan menyamar sebagai pemburu, turut melepaskan anak panah ke arah babi hutan yang dipanah oleh Arjuna. Karena kesaktian Sang Dewa, kedua anak panah yang menancap di tubuh babi hutan itu menjadi satu.
Pertengkaran hebat terjadi antara Arjuna dan Siwa yang menyamar menjadi pemburu. Mereka sama-sama mengaku telah membunuh babi hutan siluman, namun hanya satu anak panah saja yang menancap, bukan dua. Maka dari itu, Arjuna berpikir bahwa si pemburu telah mengklaim sesuatu yang sebenarnya menjadi hak Arjuna. Setelah adu mulut, mereka berdua berkelahi. Saat Arjuna menujukan serangannya kepada si pemburu, tiba-tiba orang itu menghilang dan berubah menjadi Siwa. Arjuna meminta ma'af kepada Sang Dewa karena ia telah berani melakukan tantangan. Siwa tidak marah kepada Arjuna, justru sebaliknya ia merasa kagum. Atas keberaniannya, Siwa memberi anugerah berupa panah sakti bernama "Pasupati".
Setelah menerima anugerah tersebut, Arjuna dijemput oleh para penghuni kahyangan untuk menuju kediaman Indra, raja para dewa. Arjuna lalu diangkat menjadi raja di kayangan Tejamaya, tempat para bidadari selama tujuh hari (satu bulan di kayangan = satu hari di dunia). Arjuna juga boleh memilih 40 orang bidadari untuk menjadi istrinya dimana ketujuh bidadari yang menggodanya juga termasuk dalam ke-40 bidadari tersebut dan juga Dewi Dresnala, Putri Batara Brahma. Selain itu Arjuna juga mendapat mahkota emas berlian dari Batara Indra, panah Ardadali dari Batara Kuwera, dan banyak lagi. Arjuna juga diberi kesempatan untuk mengajukan suatu permintaan. Permintaan Arjuna tersebut adalah agar Pandawa jaya dalam perang Baratayuda. Hal ini menimbulkan kritik keras dari Semar yang merupakan pamong Arjuna yang menganggap Arjuna kurang bijaksana. Menurut Semar, Arjuna seharusnya tidak egois dengan memikirkan diri sendiri dan tidak memikirkan keturunan Pandawa lainnya. Dan memang benar, kesemua Putra Pandawa yang terlibat dalam Perang Baratayuda tewas.  Di sana pula Arjuna bertemu dengan bidadari Urwasi. Di saat Arjuna sedang duduk-duduk tiba-tiba datanglah Dewi Uruwasi. Dewi Uruwasi yang telah jatuh cinta terhadap Arjuna meminta dijadikan istrinya. Arjuna menolak secara halus, namun Dewi Uruwasi yang sudah buta karena cinta tetap mendesak. Karena Arjuan tetap menolak, Dewi Uruwasi mengutuknya akan
menjadi banci kelak. Arjuna yang sedih dengan kutukan tersebut dihibur Batara Indra. Menurut Batara Indra hal tersebut akan berguna kelak dan tak perlu disesali.Setelah kembali dari Kayangan, Arjuna dan saudara-saudaranya harus menyamar di negri Wirata. Dan disinilah kutukan Dewi Uruwasi berguna. Arjuna lalu menjadi guru tari dan kesenian, dan menjadi banci yang bernama Kendri Wrehatnala atau Brihanala Kutukan itu dimanfaatkan oleh Arjuna pada saat para Pandawa menyelesaikan hukuman pembuangan mereka dalam hutan. Sesuai dengan perjanjian yang sah, Pandawa harus hidup dalam penyamaran selama satu tahun. Pandawa beserta Dropadi menuju ke kerajaan Wirata.. Meskipun demikian, Arjuna telah berhasil membentu putra mahkota kerajaan Wirata, yaitu pangeran Utara, dengan menghalau musuh yang hendak menyerbu kerajaan Wirata. Di akhir penyamarannya, Arjuna kembali menjadi seorang ksatria dan mengusir para kurawa yang ingin mnghancurkan kerajaan Wirata. Arjuna lalu akan dikawinkan dengan Dewi Utari namun Arjuna meminta agar Dewi Utari dikawinkan dengan putranya yaitu Abimanyu.

Meletusnya perang

Setelah menjalani masa pembuangan selama 13 tahun para Pandawa ingin memperoleh kembali kerajaannya. Namun ketika sampai di sana, hak mereka ditolak dengan tegas oleh Duryodana, bahkan ia menantang untuk berperang. Demi kerajaannya, para Pandawa menyetujui untuk melakukan perang.

Arjuna menerima Bhagawadgita

Kresna, adik Baladewa, tidak ingin terlibat langsung dalam peperangan antara Pandawa dan Korawa, melainkan ia memilih untuk menjadi kusir kereta Arjuna selama delapan belas hari pertarungan di Medan Kuru atau Kurukshetra. Dalam Mahabharata, peran Kresna sebagai kusir bermakna "pemandu" atau "penunjuk jalan", yaitu memandu Arjuna melewati segala kebimbangan hatinya dan menunjukkan jalan kebenaran kepada Arjuna. Ajaran kebenaran yang diuraikan Kresna kepada Arjuna disebut Bhagawadgita.
Hal itu bermula beberapa saat sebelum perang di Kurukshetra. Arjuna melakukan inspeksi terhadap pasukannya, agar ia bisa mengetahui siapa yang harus ia bunuh dalam pertempuran nanti. Tiba-tiba Arjuna dilanda pergolakan batin ketika ia melihat kakeknya, guru besarnya, saudara sepupu, teman sepermainan, ipar, dan kerabatnya yang lain berkumpul di Kurukshetra untuk melakukan pembantaian besar-besaran. Arjuna menjadi tak tega untuk membunuh mereka semua. Dilanda oleh masalah batin, antara mana yang benar dan mana yang salah, Arjuna bertekad untuk mengundurkan diri dari pertempuran. Arjuna berkata:
Kresna yang baik hati, setelah melihat kawan-kawan dan sanak keluarga di hadapan saya, dengan semangat untuk bertempur seperti itu, saya merasa anggota-anggota badan saya gemetar dan mulut saya terasa kering.....Kita akan dikuasai dosa jika membunuh penyerang seperti itu. Karena itu, tidak pantas kalau kita membunuh para putra Drestarastra dan kawan-kawan kita. O Kresna, suami Dewi Laksmi, apa keuntungannya bagi kita, dan bagaimana mungkin kita berbahagia dengan membunuh sanak keluarga kita sendiri?[2][3]
Melihat hal itu, Kresna yang mengetahui dengan baik segala ajaran agama Hindu, menguraikan ajaran-ajaran kebenaran agar semua keraguan di hati Arjuna sirna. Kresna menjelaskan, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang sepantasnya dilakukan Arjuna sebagai kewajibannya di medan perang. Selain itu Kresna menunjukkan bentuk semestanya kepada Arjuna. Ajaran kebenaran yang dijabarkan Kresna tersebut dikenal sebagai Bhagawadgita, yang berarti "Nyanyian Tuhan". Kitab Bhagawad Gita yang sebenarnya merupakan suatu bagian dari Bhismaparwa, menjadi kitab tersendiri yang sangat terkenal dalam ajaran Hindu, karena dianggap merupakan intisari dari ajaran-ajaran Weda.


Arjuna Awatara
Menurut Empu Panuluh, dalam Kitab Hariwangsa yang merupakan lampiran dari Kitab Mahabarata, Arjuna pun sebenarnya juga merupakan titisan Batara Wisnu, sebagaimana halnya dengan Kresna. Menurut Empu Panuluh, sewaktu Kresna menculik Dewi Rukmini, raja Kumbina meminta tolong pada Pandawa agar bersedia menghadapi Kresna, merebut kembali Dewi Rukmini. Yudistira menyanggupi permintaan tolong itu, sehinggga Pandawa terpaksa berperang melawan Kresna. Baladewa, raja Mandura, membela Kresna dan berperang tanding melawan Bima. Kemudian dimenagkan Baladewa. Yudistira mengalami kekalahan pula sewaktu berperang tanding melawan Kresna. Waktu tiba giliran Arjuna berhadapan dengan Kresna, kesaktiannya ternyata seimbang. Sama kuat dan sama sakti. Karenanya Kresna lalu mengubah ujud dirinya menjadi Batara Wisnu. Arjuna pun tidak mau kalah, ia pun mengubah dirinya menjadi Wisnu, sehingga terjadilah perang tanding antara dua Batara Wisnu. Hal ini menyebabkan kahyangan ribut para dewa terpaksa turun tangan melerainya. Sesudah dilerai para dewa, Arjuna diberi tahu bahwa menurut ketentuan para dewa Dewi Rukmini memang merupakan jodoh Kresna, tidak dapat diganggu gugat. Kresna, dengan Bunga Wijayakusuma miliknya, lalu mengobati Bima, Baladewa dan Yudistira. Intisari tulisan Empu Panuluh ini menyimpulkan bahwa sesungguhnya Arjuna pun memiliki sifat-sifat Wisnu. Tetapi berbeda dengan Kresna, sifat Wisnu pada Arjuna hampir tidak pernah muncul.

Arjuna dalam Bharatayuddha

Dalam pertempuran di Kurukshetra, atau Bharatayuddha, Arjuna bertarung dengan para kesatria hebat dari pihak Korawa, dan tidak jarang ia membunuh mereka, termasuk panglima besar pihak Korawa yaitu Bisma. Di awal pertempuran, Arjuna masih dibayangi oleh kasih sayang Bisma sehingga ia masih segan untuk membunuhnya. Hal itu membuat Kresna marah berkali-kali, dan Arjuna berjanji bahwa kelak ia akan mengakhiri nyawa Bisma. Pada pertempuran di hari kesepuluh, Arjuna berhasil membunuh Bisma, dan usaha tersebut dilakukan atas bantuan dari Srikandi. Setelah Abimanyu putra Arjuna gugur pada hari ketiga belas, Arjuna bertarung dengan Jayadrata untuk membalas dendam atas kematian putranya. Pertarungan antara Arjuna dan Jayadrata diakhiri menjelang senja hari, dengan bantuan dari Kresna.
Pada pertempuran di hari ketujuh belas, Arjuna terlibat dalam duel sengit melawan Karna. Ketika panah Karna melesat menuju kepala Arjuna, Kresna menekan kereta Arjuna ke dalam tanah dengan kekuatan saktinya sehingga panah Karna meleset beberapa inci dari kepala Arjuna. Saat Arjuna menyerang Karna kembali, kereta Karna terperosok ke dalam lubang (karena sebuah kutukan). Karna turun untuk mengangkat kembali keretanya yang terperosok. Salya, kusir keretanya, menolak untuk membantunya. Karena mematuhi etika peperangan, Arjuna menghentikan penyerangannya bila kereta Karna belum berhasil diangkat. Pada saat itulah Kresna mengingatkan Arjuna atas kematian Abimanyu, yang terbunuh dalam keadaan tanpa senjata dan tanpa kereta. Dilanda oleh pergolakan batin, Arjuna melepaskan panahnya yang mematikan ke kepala Karna. Senjata itu memenggal kepala Karna.

Kehidupan setelah Bharatayuddha

Setelah Perang Baratayuda berakhir, Dewi Banowati yang memang telah lama berselingkuh dengan Arjuna kemudian diperistrinya. Sebelumnya Arjuna telah memiliki seorang putri dari Dewi Banowati. Di saat yang sama Prabu Duryudana yang mulai curiga dengan hubungan istrinya dan Arjuna lalu berkata bahwa jika yang lahir bayi perempuan, itu adalah putri dari Arjuna dan Banowati akan diusir tetapi jika itu laki-laki maka itu adalah putranya. Saat bayi tersebut lahir ternyata adalah seorang perempuan. Banowati sangat panik akan hal itu. Namun atas pertolongan Kresna, bayi tersebut ditukar sebelum Prabu Duryudana melihatnya. Bayi perempuan yang lalu diasuh oleh Dewi Manuhara, istri Arjuna yang lain kemudian di beri nama Pergiwati. Karena kelahirannya hampir sama dengan putri Dewi Manuhara yang bernama Pergiwa, lalu keduanya di aku kembar. Sedang untuk putra dari Dewi Banowati dan Prabu Duryudana, Prabu Kresna mengambil seorang anak gandrawa dan diberi nama Lesmana Mandrakumara.Malang bagi Dewi Banowati, pada malam ia sedang mengasuh Parikesit, ia dibunuh oleh Aswatama yang bersekongkol dengan Kartamarma dan Resi Krepa untuk membunuh Parikesit yang masih Bayi. Dihari yang sama Dewi Srikandi, dan Pancawala juga dibunuh saat sedang tidur. Untunglah bayi parikesit yang menangis lalu menendang senjata Pasopati yang di taruh Arjuna di dekatnya dan membunuh Aswatama. Arjuna yang sedang sedih karena Banowati telah dibunuh bersama Dewi Srikandi lalu mencari seorang putri yang mirip dengan Dewi Banowati. Putri tersebut adalah Dewi Citrahoyi, istri Prabu Arjunapati yang juga murid dari prabu Kresna. Prabu Kresna yang tanggap akan hal itu lalu meminta Prabu Arjunapati menyerahkan istrinya pada Arjuna. Prabu Arjunapati yang tersinggung akan hal itu menantang Prabu Kresna berperang dan dalam pertempuran itu Prabu Arjunapati gugur sampyuh dengan Patih Udawa dan Dewi Citrahoyi lalu menjadi istri Arjuna. (Menurut Versi Jawa)

Tak lama setelah Bharatayuddha berakhir, Yudistira diangkat menjadi Raja Kuru dengan pusat pemerintahan di Hastinapura. Untuk menengakkan dharma di seluruh Bharatawarsha, sekaligus menaklukkan para raja kejam dengan pemerintahan tiran, maka Yudistira menyelenggarakan Aswamedha Yadnya. Upacara tersebut dilakukan dengan melepaskan seekor kuda dan kuda itu diikuti oleh Arjuna beserta para prajurit. Daerah yang dilalui oleh kuda tersebut menjadi wilayah Kerajaan Kuru. Ketika Arjuna sampai di Manipura, ia bertemu dengan Babruwahana, putra Arjuna yang tidak pernah melihat wajah ayahnya semenjak kecil. Babruwahana bertarung dengan Arjuna, dan berhasil membunuhnya. Ketika Babruwahana mengetahui hal yang sebenarnya, ia sangat menyesal. Atas bantuan Ulupi dari negeri Naga, Arjuna hidup kembali.
Tiga puluh enam tahun setelah Bharatayuddha berakhir, Dinasti Yadu musnah di Prabhasatirtha karena perang saudara. Kresna dan Baladewa, yang konon merupakan kesatria paling sakti dalam dinasti tersebut, ikut tewas namun tidak dalam waktu yang bersamaan. Setelah berita kehancuran itu disampaikan oleh Daruka, Arjuna datang ke kerajaan Dwaraka untuk menjemput para wanita dan anak-anak. Sesampainya di Dwaraka, Arjuna melihat bahwa kota gemerlap tersebut telah sepi. Basudewa yang masih hidup, tampak terkulai lemas dan kemudian wafat di mata Arjuna. Sesuai dengan amanat yang ditinggalkan Kresna, Arjuna mengajak para wanita dan anak-anak untuk mengungsi 

ke Kurukshetra. Dalam perjalanan, mereka diserang oleh segerombolan perampok. Arjuna berusaha untuk menghalau serbuan tersebut, namun kekuatannya menghilang pada saat ia sangat membutuhkannya. Dengan sedikit pengungsi dan sisa harta yang masih bisa diselamatkan, Arjuna menyebar mereka di wilayah Kurukshetra.
Setelah Arjuna berhasil menjalankan misinya untuk menyelamatkan sisa penghuni Dwaraka, ia pergi menemui Resi Byasa demi memperoleh petunjuk. Arjuna mengadu kepada Byasa bahwa kekuatannya menghilang pada saat ia sangat membutuhkannya. Byasa yang bijaksana sadar bahwa itu semua adalah takdir Yang Maha Kuasa. Byasa menyarankan bahwa sudah selayaknya para Pandawa meninggalkan kehidupan duniawi. Setelah mendapat nasihat dari Byasa, para Pandawa spakat untuk melakukan perjalanan suci menjelajahi Bharatawarsha.

Perjalanan suci dan kematian

Perjalanan suci yang dilakukan oleh para Pandawa diceritakan dalam kitab Prasthanikaparwa atau Mahaprasthanikaparwa. Dalam perjalanan sucinya, para Pandawa dihadang oleh api yang sangat besar, yaitu Agni. Ia meminta Arjuna agar senjata Gandiwa beserta tabung anak panahnya yang tak pernah habis dikembalikan kepada Baruna, sebab tugas Nara sebagai Arjuna sudah berakhir di zaman Dwaparayuga tersebut. Dengan berat hati, Arjuna melemparkan senjata saktinya ke lautan, ke kediaman Baruna. Setelah itu, Agni lenyap dari hadapannya dan para Pandawa melanjutkan perjalanannya.
Ketika para Pandawa serta istrinya memilih untuk mendaki gunung Himalaya sebagai tujuan akhir perjalanan mereka, Arjuna gugur di tengah perjalanan setelah kematian Nakula, Sahadewa, dan Dropadi.
Arjuna di Nusantara
Di Nusantara, tokoh Arjuna juga dikenal dan sudah terkenal dari dahulu kala. Arjuna terutama menjadi populer di daerah Jawa, Bali, Madura, dan Lombok. Di Jawa dan kemudian di Bali, Arjuna menjadi tokoh utama dalam beberapa kakawin, seperti misalnya Kakawin Arjunawiwāha, Kakawin Pārthayajña, dan Kakawin Pārthāyana (juga dikenal dengan nama Kakawin Subhadrawiwāha. Selain itu Arjuna juga didapatkan dalam beberapa relief candi di pulau Jawa misalkan candi Surowono.

Arjuna dalam dunia pewayangan Jawa

Arjuna juga merupakan seorang tokoh ternama dalam dunia pewayangan dalam budaya Jawa Baru. Di bawah ini disajikan beberapa ciri khas yang mungkin berbeda dengan ciri khas Arjuna dalam kitab Mahābhārata versi India dengan bahasa Sansekerta.

Sifat dan kepribadian

Arjuna seorang kesatria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu. Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana. Arjuna pernah menjadi brahmana di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Ia dijadikan kesatria unggulan para dewa untuk membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Dewa Indra, bergelar Prabu Karitin. dan mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain: Gendewa (dari Bhatara Indra), Panah Ardadadali (dari Bhatara Kuwera), Panah Cundamanik (dari Bhatara Narada).
Arjuna memiliki sifat cerdik dan pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah. Ia memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bharatayuddha, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata. Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia moksa (mati sempurna) bersama keempat saudaranya yang lain di gunung Himalaya.
Ia adalah petarung tanpa tanding di medan laga, meski bertubuh ramping berparas rupawan sebagaimana seorang dara, berhati lembut meski berkemauan baja, kesatria dengan segudang istri dan kekasih meski mampu melakukan tapa yang paling berat, seorang kesatria dengan kesetiaan terhadap keluarga yang mendalam tapi kemudian mampu memaksa dirinya sendiri untuk membunuh saudara tirinya. Bagi generasi tua Jawa, dia adalah perwujudan lelaki seutuhnya. Sangat berbeda dengan Yudistira, dia sangat menikmati hidup di dunia. Petualangan cintanya senantiasa memukau orang Jawa, tetapi secara aneh dia sepenuhnya berbeda dengan Don Juan yang selalu mengejar wanita. Konon Arjuna begitu halus dan tampan sosoknya sehingga para puteri begitu, juga para dayang, akan segera menawarkan diri mereka. Merekalah yang mendapat kehormatan, bukan Arjuna. Ia sangat berbeda dengan Wrekudara. Dia menampilkan keanggunan tubuh dan kelembutan hati yang begitu dihargai oleh orang Jawa berbagai generasi.
 
Arjuna pada mulanya tinggal di Kasatrian Madukara. Namun setelah Baratayuda usai ia tinggal di Banakeling, kerajaan kecil yang sebelumnya diperintah oleh Jayadrata. Kasatrian Madukara semula adalah sebuah kerajaan yang diperintah oleh raja Detya atau raja jin bernama Kumbawali. Setelah raja Detya ini dikalahkan, ia menyusup ke tubuh Arjuna, dan namanya digunakan sebagai nama alias.

Berbagai lakon yang melibatkan Arjuna:
  • Arjuna Lahir
  • Arjuna Papa
  • Babad Wanamarta
  • Arjuna Pingit
  • Arjuna Terus
  • Janaka Banteng
  • Gajah Putih Srati Putri (Kurupati Rabi)
  • Alap-Alapan Rukmini
  • Alap-Alapan Setyaboma
  • Bambang Kandihawa
  • Parta Krama (Perkawinan Arjuna-Subadra)
  • Janaka Papat (Kate Kencana)
  • Babad Wisamarta
  • Semar Mbarang Jantur (Erawati Hilang)
  • Janaka Rangka
  • Janaka Sendang
  • Palguna - Palgunadi
  • Sindusena
  • Cekel Indralaya
  • Sidajati - Sidalamong
  • Pandu Pregola
  • Bambang Margana
  • Sukmadadari
  • Sumong
  • Bambang Manonbawa
  • Makuta Rama
  • Cocogan (Perkawinan Arjuna-Srikandi)
  • Cakranegara
  • Swarga Bandang
  • Alap-Alapan Larasati (Arjuna-Larasati)
  • Alap-Alapan Palupi (Arjuna-Palupi)
  • Arjuna Sendang (Arjuna-Bidadari)
  • Arjuna Wiwaha (Begawan Ciptoning)
  • Semar Minta Bagus
  • Alap-Alapan Surtikanti (Karna-Surtikanti)
  • Endang Werdiningsih (Baladewa Kawin)
  • Kangsa Adu Jago
  • Parta Dewa
  • Abimanyu Lena (Abimanyu Gugur)
  • Jayadrata Lena (Jayadrata Gugur)
  • Karna Tanding (Perang Arjuna-Karna)

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : ARJUNA KSATRIA PEMANAH NOMOR SATU DI INDIA